Resensi Novel “Sepatu Dahlan”
Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Halaman : 390 halaman
Tahun cetak : cetakan pertama, Mei 2012
Penerbit : Noura Books (P.T Mizan Publika)
“Sepatu Dahlan” adalah novel pertama dari trilogi novel inspirasi Dahlan Iskan, yang memuat buku “sepatu dahlan”, “surat dahlan”, dan “kursi dahlan”. Masing-masing novel ini menceritakan Dahlandari usia yang berbeda. “Surat Dahlan” menceritakan tentang Dahlan remaja hingga dewasa berbeda dengan “kursi Dahlan” yang menceritakan seorang Dahlan dewasa, sedangkan novel “sepatu Dahlan” sendiri lebih fokus pada masa kanak-kanak hingga remaja beliau. Meski begitu Dahlan Iskan sendiri mengatakan dalam kata pengantar buku ini bahwa,
“saya tahu Khrisna Pabichara mengadakan riset yang menulis dan novel ini dengan hatinya. meski beberapa adegan dan tokoh yang ditulisnya adalah fiktif”.
Novel “sepatu Dahlan” ini diawali dengan cerita perjuangan Dahlan di masa kini yang harus melalui penyakitnya hingga menjalani operasi. Dalam perenungan masa sakitnya Dahlan teringat masa remaja hingga beranjak dewasanya di kampung halamannya, Kebon Dalem. Sebuah desa kecil yang hanya berisi enam rumah yang hidup dalam keterbatasan namun tetap memperjuangkan anak-anak mereka sekolah. Disinilah cerita perjuangan Dahlan muda dimulai.
Dahlan Iskan remaja baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya dan mengalami kebimbangan. Dia ingin sekali melanjutkan sekolah ke smp magetan, sekolah favorit disana. Tetapi ayahnya menolak keingginannya. Banyak faktor yang membuat ayahnya menolak keinginannya tersebut, selain keterbatasan ekonomi, jarak sekolah dan rumah yang sejauh 15 kilometer tentu sulit untuk dilalui dengan berjalan kaki. Dahlan pun diminta sekolah di tsanawiyah Takeran jika masih ingin bersekolah. Namun begitu, Dahlan tidak mudah menyerah, ia pun mencoba memikirkan taktik yang sekiranya akan membuat ayahnya menyetujui keinginannya bersekolah di smp magetan.
Pada waktu subuh, saat bapaknya dalam kondisi syahdu setelah bersawah, Dahlan pun mendekatinya dan menceritakan mimpinya yang merupakan bagian dari muslihatnya. Dahlantahu ada satu orang yang disegani bapaknya selama ini, yaitu Kiai Mursjid. Dahlanberencana menggunakan Kiai Mursjid untuk membantunya muwujudkan keinginannya. Namun melihat bapaknya takjub begitu ia bercerita tentang Kiai Mursjid yang datang ke dalam mimpinya ada perasaan sedih dan pilu hinggap dihatinya. Mana sanggup ia berbuat demikian dan mendurhakai bapaknya sendiri dengan nama Kiai Mursjid. Karena itu, Dahlan pun tertegun sebentar. Sebelum melanjutkan kembali mimpi muslihatnya dan menggantinya bahwa Kiai Mursjid memintanya sekolah di tsanawiyah Takeran yang merupakan madrasah sekolahnya. Dengan ini pun Dahlan akhirnya masuk ke tsanawiyah Takeran untuk menimba ilmu.
Cerita tentang sepatu yang menjadi judul buku ini sendiri diambil dari kisah Dahlan yang bermimpi mempunyai sepatu dan sepeda agar memudahkannya pulang pergi ke tsanawiyah Takeran sejauh 6 kilometer. Banyak hal yang dilalui oleh Dahlan agar mimpi mempunyai sepatunya terwujud termasuk berlaga di pertandingan voli dan melatih pemain voli pabrik tebu milik bapak Aisha, sang pujaan hati.
Banyak pelajaran yang dapat di ambil dari cerita sepatu Dahlan tersebut. Bagaimana Dahlan akhirnya bertemu teman-teman terbaiknya, Kadir, Arif, Komariyah, maupun Aisha yang berteman tanpa pandang bulu. Atau tentang kesederhanaan hidup orang-orang desa yang meskipun hidup pas-pasan masih berusaha melanjutkan sekolah.
Novel sepatu Dahlan ini juga sudah di filmkan, ada beberapa hal yang berbeda dalam penyajian novel dan film, namun perbedaan tersebut tidak mengurangi makna yang terkandung dalam novel tersebut. Novel Dahlan ini sangat cocok untuk dibaca dan sangat membantu untuk memaknai hidup.

Komentar
Posting Komentar