Resensi novel “ayah”

Judul : “Ayah”
Penulis : Andrea Hirata
Halaman: 432 halaman
Tahun : Mei 2016
Penerbit : Bentang

Andrea Hirata selalu memberikan cerita-cerita baru yang menyegarkan dengan latar pulau belitung yang epik. Salah satu novel epiknya adalah novel “ayah” yang menceritakan apik kisah bergenre drama dan roman dalam tiga sisi tokoh novel. Tokoh utama novel ini adalah Sabari, seorang pemuda yang begitu jatuh cinta pada anak gadis juragan batu bara, Marlena. Jatuh cintanya Sabari pada Marlena adalah awal kisah ini dimulai.

Sabari adalah seorang remaja belitung yang tidak bisa dibilang tampan dan kaya raya. Satu-satunya hal yang dapat dibanggakan dari dirinya hanyalah kemampuan Sabari di bidang bahasa yang memang begitu menngesankan. Ketika Sabari jatuh cinta pada Marlena, ia pun melakukan apapun demi menaklukan hati gadis pujaannya, mulai dari mengirimkan surat, mengirim puisi lewat radio dengan begitu jenaka bahkan sampai bekerja pada bapak Marlena sang juragan batu bara. Hal itu tetap tidak mampu meluluhkan hati Marlena. Marlena bahkan merasa jijik dengan sikap Sabari.

Marlena memang dikenal sebagai seorang gadis yang suka bermain laki-laki. Sampai suatu hari Marlena hamil tanpa diketahui siapa bapak dari anak yang dikandungnya. Melihat hal itu, untuk menutupi aib tersebut bapak Marlena menikahkan Sabari dengan Marlena. Selama kehamilannya Sabari menunggui Marlena. Hingga lahirlah seorang anak yang dinamai Zorro. Sabari menyayangi Zorro sebagaimana ia menyayangi anak biologisnya. Namun begitu melahirkan sifat Marlena tetap tidak berubah, Marlena pun meninggalkan Sabari dan Zorro demi menikah dengan laki-laki lain. Kesedihan Sabari karena ditinggal sang pujaan hati mereda begitu sadar ada Zorro sebagai pelipur laranya.

Sabari pun hidup sebagai bapak segaligus ibu bagi Zorro tidak sekalipun ia menyesal dan bersedih atas hal itu karena rasa sayangnya pada Zorro yang begitu besar. Namun suatu hari, Marlena kembali datang ke dalam hidup Sabari, bukan untuk menghapus luka yang pernah dibuatnya, Marlena kembali untuk membuat luka baru untuk Sabari dengan membawa Zorro pergi. Kesedihan Sabari ditinggal Zorro membuatnya setengah gila. Hal ini mengundang rasa prihatin Ukun dan Tamat sahabatnya. Geram dan kesal melihat perlakuan Marlena dan tidak teganya merekak melihat hidup Sabari yang mulai tidak waras membawa mereka mengembara sampai sumatera hanya untuk mencari Zorro.

Cerita ini begitu epik dengan penggambaran cerita yang terkadang jenaka. Kasih sayang Sabari sebagai seorang ayah sangat terlihat dari bagaimana ia hampir gila saat kehilangan Zorro yang bahkan bukan anak kandungnya sendiri. Persahabatan antara Ukun, Tamat dan Sabari yang begitu erat juga menjadi salah satu hal mengesankan dalam novel ini. Nama Sabari sendiri menjadi amat dramatis karena hidupnya yang harus selalu sabar menhadapi cobaan-cobaan.

Ketika membaca novel ini mungkin akan terasa membingungkan di awal karena cerita yang terkesan melompat-lompat. Namun tetap begitu menarik untuk terus dibaca hingga akhirnya pembaca dapat merangkai sendiri apa yang terjadi di novel ini. Amazing book!

Komentar