Resensi Novel Anomali Hati

Judul: Anomali Hati
Penulis: Lubis Grafura
Halaman : 175 halaman
Tahun: cetakan pertama, 2018
Penerbit: Mojok

Novel ini menceritakan tentang laki-laki bernama Alendra yang terjebak dalam kekacauan waktu bersama sahabat yang tidak pernah bisa ia temui kecuali lewat surat elektronik dan sms, Sheli. Kekacauan waktu tersebut adalah tidak disadari Alendra sampai pada sebuah kejadian dimana alndra menerima surel dari Sheli beberapa hari sebelumnya, yang berisi peristiwa yang ia alami saat ini.

“belum sempat beranjak dari tempat duduknya, ia dikejutkan oleh suara dentuman. Semua mahasiswa yang ada disana menghentikan kegiatan dan berlari ke arah sumber suara. Sebuah mobil matik berwarna merah menabrak sebuah pot besar. Mobil terbalik. Mereka bergegas menololng. Alendra merasa ada sesuatu yang janggal. Ia berdiri mematung diantara laju orang yang bergegas. Seketika otaknya langsung terpusat pada surel Sheli yang baru saja dibacanya.”

Alendra, tokoh utama, yang merupakan mahasiswa ilmu fisika menemukan banyak kejanggalan setelah peristiwa kecelakaan yang ternyata menewaskan profesor sekaligus dosen panutannya dalam ilmu fisika. Setelah itu, dengan ilmu fisika yang dia punya, Alendra mengumpulkan kejanggalan-kejanggalan lain dan menariknya kedalam satu benang merah yang akhirnya menjawab alasan kenaap ia tidak dapat bertemu dengan Sheli. Hal itu disebabkan oleh kekacauan waktu antara waktu ditempatnya dan waktu di tempat Sheli.

Secara garis besar buku ini menceritakaknn tetang perjuangan untuk menemuka waktu yang tepat untuk bertemu dengan seseorang. Perjuanagn Alendra untuk menemui Sheli dengan cara menghitung waktu dan mencari perpotongan waktu agar ia dan Sheli dapat bertemu semakin menarik karena kekacauan waktu yang tidak memiliki pola tetap.

Yang menarik dari buku ini yaitu Alendra sebagai mahasiswa yang genius di bidang fisika, bukan hanya digambarkan saja. Tetapi, penulis buku ini juga memasukkan istilah-istilah fisika dalam menyelesaikan masalah Alendra. Tak jarang pula saya menemukan kutipan-kutipan kalimat dari ilmuwan fisika dalam novel ini.

“kau mengingatkanku pada blaise pascal si penemu mesini hitung. Ada ungkapan yang terkenal dari dirinya bahwa hati memiliki beragam alasan yang tidak dapat dimengerti oleh rasio…”

Selain istilah fisika yang seringkali muncul. Hal yang menarik lainnya adalah bagaimana proses perjuangan untuk menemui Sheli. Dimana Alendra sering bertemu oleh banyak orang dan diberi nasihat yang sama yaitu, “jangan menyia-nyikan waktu”

Kata-kata itu ditulis lebih dari tiga kali dan diucapkan oleh orang yang berbeda. Setelah saya maknai isi dari novel ini, kata-kata ini memiliki arti penting tersendiri. Menurut saya, maksud kata-kata tersebut adalah, waktu yang kita punya, kita gunakan sebaik-baiknya untuk bersyukur dan melakukan hal yag beranfaat. Jangan buang waktu kita untuk mengurusi sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh tuhan. Salah satu adegan dalam novel ini yang menurut saya paling jelas dalam menyampaikan makna ini adalah ketika Alendra mencoba membenarkan apa yang terjadi di masa depan dengan menolong seekor kucing yang terjatuh di selokan air dan dimasa depan mati karena terbawa arus air. Namun setelah menolong kucing itupun ternyata kucing tersebut tetap mati. Disitu saya sadar bahwa takdir yang telah ditetapkan tidak bisa kita hindari meski kita sudah mencoba mencegahnya.

Saya juga sangat suka dengan cara penulis dalam menyelipkan makna-makna ketuhanan di dalam buku ini. Seperti tentang bagaimana Alendra yang paham betul bahwa seharusnya ilmu membawa kita kepada tuhan, bukan menuhankan ilmu.

“apa yang bisa manusia lakukan terkait waktu? Tuhan sendiri berjanji, demi waktu bahwa sesungguhnya kita benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. Semoga kita dijadikan sebagai manusia yang sabar dalam menerima segala takdirnya.”

Komentar