Resensi Kumpulan Puisi
“Pahlawan dan Tikus”


Judul: Pahlawan dan Tikus
Penulis: A. Mustofa Bisri
Halaman : 120 halaman; 14 x 20 cm
Tahun: cetakan pertama, juli 2019
Penerbit: DIVA Press (anggota IKAPI)

Buku kumpulan ini berisi 6 bab besar yang mencakup 55 puisi. Jika dirinci maka daftar isi dari buku ini:


PUISI-PUISI GELAP
1. Pahlawan
2. Huruf-huruf Hidup
3. Seperti Sudah Kduga
4. Matahari Merah Padam
5. Merdeka
6. Les!
PUISI-PUISI REMANG-REMANG
7. Dari A sampai Z
8. Semua
9. O
10. Bumi Bingung
11. Tikus
12. Kaukah Sepi Itu?
13. Lembar-lembar Kalender Tua
14. Di tengah Hiruk-Pikuk
15. A
16. Jeda
17. Reinkarnasi
18. Tikus-tikus di Atas Meja
19. Andaikata
20. Perlawanan
21. Input Output
PUISI-PUISI AGAK TERANG
22. Ketika Tuhan
23. Nazar Ibu di Karbala
24. Ibu
25. Sujud
26. Akhrinya Ahadku pun Terkapar lagi
PUISI-PUISI TERANG
27. Kurban
28. Kepada Penyair
29. Makin Canggih Saja
30. Saling
31. Di Negeri Amplop
32. Putra-putra Ibu Pertiwi
33. Surabaya
34. Dua Surat dari Surabaya
35. Di Taman Pahlawan
36. Sampang
37. Berita Kang Karmin
38. Orang Kecil Orang Besar
39. Maju Tak Gentar
40. Rekayasa I
41. Rekayasa II
42. Pt Rekayasa Semesta
43. Negeriku
44. Soal
45. Soal Kemiskinan
46. Permainan Golf
47. Berita Politik
PUISI-PUISI TERANG-TERANGAN
48. Iblis Sedang Kalap Bosnia
49. Waktu Tiba-tiba Brenti Berdenyut
50. Seandainya
51. Nasihat Ramadlan Buat A. Mustofa Bisri
52. Ya Rasulullah


PUISI-PUISI PENERANG
53. Murka Lulu Batchan (?)
54. Hizib Nashar Wali Quthub Asy-Syadzili
55. Doa Akasyah

Kumpulan puisi ini sangat menarik karena dikelompokan menjadi 6 bab seperti itu. Masing-masing judul bab meninterprestasikan isi puisi di bab tersebut. Misalnya, pada bab “puisi-puisi gelap”. pada bab tersebut semua puisi bermakna sesuatu yang gelap, ataupun menyedihkan. Contohnya pada puisi berjudul “seperti sudah kuduga

“seperti sudah kuduga
Kau akan menyesal
Dan akan kembali
Mengulangi apa
Yang kau sesali
Sampai kau tak bisa lagi
Menyesal dan kembali”

Puisi tersebut menggambarkan sesuatu kesalahan yang sering diperbuat manusia tetapi terus-menerus diulangi dan disesali. Manusia melakukan itu sampai pada waktu dia tidak bisa lagi menyesal dan mengulangi kesalahannya.

Atau pada bab “puisi-puisi penerangan”. pada bab ini tentu saja isi puisi menggambarkan banyak hal yang akan menerangi hidup manusia. Contohnya pada kutipan puisi “Doa Akasyah

“Ya Allah, Wahai Tuhanku;
Bila waham dan was-was merasuki dadaku
Tanpa kusadari atau kusadari
Aku bertobat darinya dan berserah diri
Seraya mengucap Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam

Puisi ini merefleksikan diri kita bahwa sejatinya kita adalah makhluk bertuhan. Maka hidup akan senantiasa terang dan damai jika kita kembali kepada-Nya.

Mustofa Bisri sendiri lebih akrab disapa gus mus tentu sudah tidak asing di telinga kita. Beliau adalah seorang kiai yang juga dikenal masyarakat sebagai budayawan, dan cendekiawan yang rajin menekuni dunia tulis dan lukis. Melihat latar belakangnya tersebut rasanya tidak heran jika puisi-puisi yang beliau tulis sangat lekat dengan nilai agama dan ketuhanan.

Buku ini tentu sangat menarik dan syarat akan ilmu. Sentuhan ketuhanan yang terdapat pada buku kumpulan puisi di bawakan dengan apik diiringi kritik sosial. Tentu buku seperti ini sangat cocok untuk menemani keseharian kita. Sebagai refleksi ketuhanan kita setiap waktu.


Komentar